perundungan atau Bullying Menurut Al Qur'an
Perundungan (bullying) saat ini dirasakan sangat marak terjadi Di sekolah, kantor, dimanapun tempatnya, kasus perundungan mudah ditemui. Salah satu contohnya yang sedang tren terjadi ialah cyberbullying. Sosial media seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan sebagainya menjadi sarana perundungan untuk orang-orang yang dinilai bertingkah laku yang tak sesuai dengan norma masyarakat. Semakin sering perundungan ini terjadi, masyarakat pun menjadi terbiasa untuk ikut serta mengomentarinya dengan kata-kata sinis tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun efek bully di dunia nyata dan maya adalah sama, namun di dunia maya jauh lebih kuat dampaknya ketimbang bully di dunia nyata.
Agama Islam telah melarang perundungan dalam bentuk apapun. Al quran menyebutkan larangan ini dalam surat al-Hujurat ayat 11 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Perundungan biasanya bertujuan untuk menimbulkan perasaan malu bagi korbannya, terlebih yang dirasakan oleh si pecundang yang merasa ‘lebih kuat’ dari korban. Surah al-Hujurat ayat 11 mengajarkan agar kita senantiasa introspeksi diri lebih dulu sebelum menilai baik buruknya orang lain. Bagi masyarakat yang tidak bisa bersikap bijak akan sangat mudah ikut merundung dan pada akhirnya ikut menjadi pelakunya tanpa disadari. Padahal Alquran telah memberi peringatan, “boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).”
Perundungan terjadi disebabkan karena kurang terjalinnya rasa persaudaraan di antara sesama. Dan hal tersebut tidak sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Qs. Al-Hujurat [49]: 10)
Dalam Islam, bullying adalah perbuatan yang sangat tercela. Bagaimana cara mengatasinya? Yakinkan anak agar bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, apabila terus-terusan mendapatkan perundungan, kita harus mengajarkan anak untuk melawan. Setidaknya menunjukkan perlawanan secara non-verbal berupa roman muka tegas dan menunjukkan keberanian dalam bersikap.
Memang sulit untuk mendapatkan info dari korban perundungan sehingga dirasakan sulit untuk mendapatkan bukti-buktinya. Namun orangtua bisa memancing anak untuk bercerita tentang kesehariannya di sekolah karena bisa jadi dia takut dan malu untuk bercerita. Korban akan terdiam dan berdampak pada kejiwaannya,. Hal ini akan sangat berbahaya bagi kepribadian sang anak. Oleh karena itu, pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati sangat tepat diterapkan dalam kondisi seperti ini.
Islam mengajarkan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Sebagai salah satu bentuk ikhtiar kita untuk mencegahnya, apabila kita mendengar anak kita mendapatkan perundungan, tidak ada salahnya sebagai orangtua, kita mengajak anak yang suka merundung untuk main ke rumah lalu diberi suguhan dan diajak ngobrol santai, buat dia nyaman. Diharapkan dia akan merasa sungkan bahkan mungkin dia yang akan menjadi pelindung korban di sekolah saat dijahili oleh anak lain.
maka dari itu kita stop bully atau menjahili orang lain,saya ada sekolah untuk anak kita biar tidak membully atau menjahili yaitu zamzam syifa boarding school

Komentar
Posting Komentar